Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ALIRAN FILSAFAT PRAGMATISME PENDIDIKAN JASMANI

 Aliran Filsafat Pragmatisme Pendidikan Jasmani

Adapun sejumlah aliran filsafat yang telah berkembang yang  mempengaruhi pemikiran mengenai pendidikan. Aliran yang akan dibicarakan selanjutnya adalah pragmatisme yang dikaitkan dengan pendidikan dan  pendidikan jasmani dan olahraga.

Pragmatisme

Pragmatisme menitik beratkan pada pengalaman sebagai kunci hidup. Filsafat ini berkenaan dengan pengetahuan daripada dengan kenyataan, karena itu pada tahap awalnya pragmatisme sering dinamakan eksperimentalisme. Istilah pragmatisme ditemukan pada akhir tahun 1800. Dalam konsep modernnya, filsafat ini dipandang sebagai asli Amerika. Pengalaman manusia menyebabkan perubahan dalam konsep kenyataan. Pragmatis yakin dalam perubahan, ia tidak percaya bahwa gagasan, nilai atau kenyataan tidak berubah, tetapi malahan beranggapan bahwa pengalaman manusia menimbulkan gagasan, nilai dan kenyataan menjadi dinamis. Pragmatis berkata bahwa pengalaman adalah satu-satunya cara untuk mencari kebenaran dan yang tidak dialami tidak dapat diketahui atau dibuktikan. 

aliran filsafat pragmatisme pendidikan jasmani

  1. Keberhasilan adalah satu-satunya kriteria dari nilai dan kebenaran teori. Pengetahuan dan pengalaman membantu individu untuk menemukan apa yang benar. Tetapi kebenaran dianggap luwes, dan kebenaran hari ini mungkin besok tidak benar. Pragmatis berkeyakinan kuat pada metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan memandang metode itu cara terbaik untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri dianggap hanya batu pijak saja dalam perjalanan untuk memperoleh pengetahuan lebih lanjut dan eksperimentasi. Pragmatis  percaya bahwa teori yang baik adalah teori yang benar dan teori yang tidak dapat dilaksanakan adalah teori palsu.
  2. Individu adalah bagian integral dari satu masyarakat dan tindakannya berpengaruh pada masyarakat. Penganut pragmatisme beranggapan manusia dan masyarakat harus hidup secara serasi dan bahwa tindakan seseorang secara langsung akan mempengaruhi orang lain. Pragmatis yakin pada demokrasi, yaitu kebutuhan dari satu kelompok harus mencakup kebutuhan tiap individu dalam kelompok. Bagi pragmatis nilai adalah urusan individu. Apa yang betul atau salah tergantung pada lingkungan, keadaan, dan pertimbangan individu. Namun akibat dari satu tindakan seseorang akan diukur dari sudut nilainya bagi masyarakat sebagai satu kesatuan.
  3. Heraclitus adalah eksponen pragmatisme pertama dari Yunani. Ia menyatakan keyakinannya bahwa dunia dan nilainya senantiasa berada dalam keadaan berubah. Quintilian berkata bahwa pembelajaran adalah hasil dari pengalaman. Francis Bacon, seorang Inggris mengemukakan teori bahwa masyarakat dan ilmu harus bekerjasama untuk memperoleh pengetahuan dan yang satu tidak akan berfungsi secara efektif tanpa yang lain. Pragmatis Amerika yang paling terkenal adalah John Dewey. Dewey memperkenalkan teori bahwa sesuatu yang diketahui manusia dapat berubah dan sama sekali tidak dapat dianggap statis. Dewey memandang hidup sebagai satu eksperimen yang berkelanjutan, tidak pernah berakhir. Dia percaya bahwa belajar sebagaimana berpikir merupakan salah satu tujuan penting dalam hidup. Filsafat dewey berpengaruh besar terhadaP bidang pendidikan.

Filsafat Pragmatisme dan Pendidikan Jasmani

pengalaman yang lebih bermakna dapat diberikan bila ada bermacam kegiatan. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang pragmatis menyukai program pendidikan jasmani dan olahraga yang beragam. Siswa diberikan masalah yang menarik untuk dipecahkan dan tantangan dałam mempersiapkan diri menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara efektif. Kegiatan yang kreatif seperti olahraga tari dan pengalaman berperahu, berkemah dan hidup di alam bebas, dan juga semua jenis olahraga sangat dihargai tinggi. Melalui aktivitas itu siswa tidak saja belajar dengan berbuat tetapi juga dapat memperoleh satu ukuran penguasaan diri dan disiplin dan belajar bekerjasama dengan orang lain.

  1. Aktivitas bersifat sosialisasi. Pendekatan pragmatis terhadap pendidikan jasmani dan olahraga merupakan pengintegrasian seseorang ke dalam masyarakat. Aktivitas apapun yang bernilai dapat diterima, olahraga beregu dan aktivitas kelompok yang rekreatif memenuhi syarat bagi pragmatis. Penganut pragmatis melihat pendidikan sebagai kehidupan, olahraga member sumbangan terhadap sosialisasi individu dengan mengusahkan keterlibatan emosional, kompetisi dan interaksi.
  2. Program ditentukan oleh kebutuhan dan minat. Dengan program yang pragmatic pembelajaran dicapai dengan mengalami hal-hal yang terbukti bermanfaat bagi yang belajar dan sebagai hasil dari minat yang belajar sendiri. Aktivitas yang terutama dipil ih adalah yang menantang dan kreatif. Jadi aktivitas seperti olahraga beregu, tari, aktivitas rekreasi dimasukkan ke dalam program yang pragmatik krenan menjadi minat dari peserta.
  3. Pembelajaran dicapai melalui metode pemecahan masalah. Guru  pendidikan jasmani dan olahraga yang pragmatis percaya bahwa pemecahan masalah menjadikan belajar lebih bermakna bagi siswa. Kemampuan  berpartisipasi untuk mengenal dan memecahkan masalah mendorong siswa berpikir. Aktivitas menari dipandang baik sekali bagi guru pendidikan jasmani dan olahraga yang pragmatis, karena ada unsur kreativitas di  dalamnya. Pembelajaran gerak yang menitik beratkan pada metode pemecah-masalah, juga dipandang sangat bernilai bagi pragmatis karena  ditekankan pada penemuan sendiri.
  4. Guru adalah seorang motivator. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang pragmatis adalah seorang pemimpin dan motivator bagi siswa. Siswa didorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang dipandang oleh guru sangat menguntungkan siswa. Guru yang pragmatis membimbing siswa dalam membuat pilihan yang tepat, tetapi tidak mengarahkan atau mengatakan kepada siswa bahwa ia harus melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Guru yang pragmatis menggunakan cara agar siswa menjadi pemimpin, dan berusaha agar sebanyak mungkin siswa mendapatkan pengalaman menjadi pemimpin.
  5. Standardisasi bukan menjadi bagian dari program. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang pragmatis tidak menyukai standardisasi, karena keyakinan bahwa bila berbuat demikian semua program menjadi seragam. Pragmatis memberi nilai yang lebih tinggi pada penilaian daripada pengukuran. Mereka tidak tertarik pada pengukuran kekuatan otot, malahan tertarik untuk menentukan apakah siswa akan mampu menghadapi tantangan hidup yang akan terjadi. Pragmatis menilai siswa yang akan ambil bagian dalam permainan bola basket apakah ia mempelajari unsur fair play atau tidak menjadi sama pentingnya dengan belajar memukul bola.



Daftar Pustaka:

  • Paturusi, Achmad. (2012). Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Jakarta: Rineka Cipta.


Posting Komentar untuk "ALIRAN FILSAFAT PRAGMATISME PENDIDIKAN JASMANI"