VALIDITAS INSTRUMEN

 Validitas Instrumen Tes

Linn & Gronlund (1995) menjelaskan validitas mengacu pada kecukupan dan kelayakan interpretasi yang dibuat dari penilaian, berkenaan dengan penggunaan khusus. Pendapat ini diperkuat oleh Messick (1989) bahwa validitas merupakan kebijakan evaluatif yang terintegrasi tentang sejauhmana fakta empiris dan alasan teoretis mendukung kecukupan dan kesesuaian inferensi dan tindakan berdasarkan skor tes atau skor suatu instrumen. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa validitas akan menunjukkan dukungan fakta empiris dan alasan teoretis terhadap terhadap interpretasi skor tes atau skor suatu  instrumen, dan terkait dengan kecermatan pengukuran (Retnawati, 2015). Proses validasi meliputi pengumpulan bukti-bukti untuk menunjukkan dasar saintifik penafsiran skor seperti yang direncanakan. Validitas adalah penafsiran skor tes seperti yang tercantum pada tujuan pengunaan tes, bukan  tes itu sendiri. Apabila skor tes digunakan ditafsirkan lebih dari satu makna, setiap penafsiran atau pemaknaan harus divalidasi.

Validitas Instrumen

Validitas itu dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu: (l) validitas kriteria (criterion-related), (2) validitas isi, dan (3) validitas konstruk (Nunnally, 1978, Allen & Yen, 1979, Fernandes, 1984, Woolfolk & McCane, 1984, Keriinger, 1986, dan Lawrence, 1994). Validitas ini dapat diketahui melalui fakta keberadaaan validitas. Sumber fakta validitas dapat dikelompokkan menjadi isi tes, proses respons, struktur internal, hubungan dengan variabel lain, dan konsekuensi dari pelaksanaan tes (AERA, APA, and NCME, 1999; Cizek, et al., 2008). Keberadaan validitas dari suatu perangkat tes ini dapat diketahui melalui analisis isi tes dan analisis empiris dari skor tes data respons butir (Lissitz & Samuelsen, 2007).  Validitas berdasarkan kriteria dibedakan menjadi dua, yaitu validitas prediktif dan validitas konkuren. Fernandes (1984) mengatakan validitas berdasarkan kriteria  dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tes memprediksi kemampuan  peserta di masa mendatang (predictive validity) atau mengestimasi kemampuan dengan alat ukur lain dengan tenggang waktu yang hampir bersamaan (concurrent  validity).

A. Validitas Isi

Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expertjudgment. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah apakah masing-masing aitem dalam tes layak untuk mengungkap atribut yang diukur sesuai dengan indikator keperilakuannya dan apakah aitem-aitem dalam tes telah mencakup keseluruhan domain isi yang hendak diukur.

Validitas isi suatu instrumen adalah sejauhmana butir-butir dalam instrumen itu mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang  hendak diukur dan sejauh mana butir-butir itu mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (Nunnally, 1978; Fernandes, 1984). Sementara itu Lawrence (1994)  menjelaskan bahwa validitas isi itu keterwakilan pertanyaan terhadap kemampuan khusus yang harus diukur. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa validitas isi terkait dengan analisis rasional terhadap domain yang hendak diukur untuk  mengetahui keterwakilan instrumen dengan kemampuan yang hendak diukur.

Secara lebih spesifik lagi validitas isi dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu face validity (validitas tampang) dan logical validity (validitas logis).

1. Validitas Tampang

Validitas tampang adalah bukti validitas yang walaupun penting namun paling rendah signifikansinya dikarenakan hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (appearance) tes dan kesesuaian konteks aitem dengan tujuan ukur tes. Apabila aitemaitem dalam tes konteksnya telah sesuai dengan tujuan yang disebutkan oleh nama tes dan apabila dilihat segi penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas tampang telah terpenuhi. Jadi tidak dapat dikatakan valid apabila tes yang menurut namanya mengukur kemampuan verbal tetapi aitem-aitemnya dipenuhi formula matematika.

2. Validitas Logis

Validitas logis kadang-kadang disebut sebagai validitas sampling (sampling validity) karena validitas ini menunjuk pada sejauhmana aitem tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Dalam hal ini karakteristik aitem yang paling penting adalah relevansi isinya dengan indikator keperilakuan sebagai operasionalisasi dari atribut yang diukur. Untuk memperoleh validitas logis yang tinggi suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya aitem yang relevan sebagai bagian dari keseluruhan tes. Suatu objek ukur haruslah dibatasi lebih dahulu kawasan keperilakuannya secara jelas dan komprehensif, kalau tidak akan menyebabkan terikutnya aitem yang tidak relevan dan tertinggalnya bagian penting dari aspek yang diukur. Pada berbagai bentuk skala yang mengungkap variabel non-kognitif, pembatasan perilaku itu biasanya tidak mudah untuk  dilakukan dan tidak dapat dibuat dengan tegas sekali.

B. Validitas Konstruk

Validitas konstrak adalah validitas yang menunjukkan sejauhmana hasil tes mampu mengungkap suatu trait atau suatu konstrak teoretik yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979). Validitas konstruk adalah validitas yang menunjukkan sejauhmana instrumen mengungkap suatu kemampuan atau konstruk teoretis tettentu yang hendak diukur (Nunnally, 1978, Fernandes, 1984). Prosedur validasi konstruk diawali  dari suatu identifikasi dan batasan mengenai variabel yang hendak diukur dan dinyatakan dalam bentuk konstruk logis berdasarkan teori mengenai variabel tersebut. Dari teori ini ditarik suatu konskuensi praktis mengenai hasil pengukuran pada kondisi tertentu, dan konskuensi inilah yang akan diuji. Apabila hasilnya sesuai dengan harapan maka instrumen itu dianggap memiliki validitas konstruk yang baik. Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Walaupun sebagian prosedur pengujian validitas konstrak biasanya memerlukan tehnik analisis yang lebih kompleks dibanding tehnik-tehnik yang biasanya dipakai pada pengujian validitas empirik lainnya akan tetapi estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien.

C. Validitas Berdasar Kriteria

Validitas kriteria merupakan cara ketiga dalam membuktikan validitas. Validitas ini dibuktikan dengan melihat kebermanfaatan dari interpretasi skor hasil pengukuran (usefulness). Pendekatan yang dipakai dapat dalam bentuk  criterion-related validation (Popham, 1995). Prosedur valididasi tes berdasar kriteria menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes. Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh skor tes atau berupa suatu ukuran lain yang relevan.

Untuk mengestimasi tingginya validitas berdasarkan kriteria, dilakukan komputasi kofisien korelasi antara skor tes dengan skor kriteriae Koefisien ini merupakan koefisien validitas bagi tes yang bersangkutan, yaitu rxy, dimana X melambangkan skor tes dan Y melambangkan skor kriteria. Prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan salahsatu di antara dua macam validitas, yaitu validitas prediktif (predictive validity) atau validitas konkuren (concurrent validity).

1. Validitas Prediktif

Validitas prediktif sangat penting artinya bila tes dimaksudkan untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performans di waktu yang akan datang. Contoh situasi yang menghendaki adanya prediksi performans antara lain adalah dalam seleksi calon mahasiswa baru, dalam proses klasifikasi dan penempatan karyawan, dalam pembimbingan karir, dan semacamnya. Dalam validasi prediktif, skor performans yang diprediksi dijadikan sebagai kriteria validasi.

2. Validitas Konkuren

Apabila tes tidak difungsikan sebagai prediktor performans, maka kriteria validasinya adalah ukuran Iain yang relevan dengan tujuan tes yang bersangkutan. Setiap hasil ukur yang relevan dengan tujuan ukur tes yang divalidasi dapat dijadikan sebagai kriteria dalam prosedur ini. Korelasi antara skor tes yang divalidasi dengan ukuran kriteria tersebut merupakan koefisien validitas konkuren. Validitas konkuren merupakan indikasi validitas yang layak ditegakkan bila tes tidak dirancang untuk berfungsi sebagai prediktor dan ia merupakan validitas yang sangat penting dalam situasi diagnostik. Bilamana tes dirancang untuk berfungsi sebagai prediktor bagi performans di masa datang, maka estimasi validitas konkuren tidak lagi cukup memuaskan dan prosedur validasi prediktif merupakan keharusan.9

Bila pada prosedur validasi prediktif letak problemnya  ada pada jarak waktu panjang yang diperlukan sebelum  memperoleh skor performans sebagai kriteria validasinya,  maka pada prosedur validasi konkuren problem ułamanya adalah pada masalah memperoleh kriteria validasi yang tepat. Tidak selalu kriteria tersebut dapat ditentukan dengan mudah oleh karena konsep mengenai trait yang diukur oleh tes dan oleh kriterianya seringkali tidak sama, walaupun namanya tampak sama.


Daftar Pustaka:

  • Allen, M. J. & Yen, W. M. (1997). Introduction to measurement theory. Monterey, CA: Brooks/Cole Publishing Company.
  • Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Cizek, G.J. Rosenberg, S.L. & Koons, H.H. (2008). Source of validity evidence for educational and psychological test. Educational and Psycological Measurement, Vol. 68, pp. 397-412.
  • Fernandes, H. J. X. (1984). Evaluation of educational program. Jakarta: National Education Planing, Evaluating and Curriculum Development.
  • Kerliger, F.N. (1986). Asas-asas penelitian behavioral (Terjemahan L.R. Simatupang). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  • Linn, R.L & Gronlund, N.E. (1995). Measurement and assessment in teaching (7th ed). EnglewoodCliffs, NJ: Prentice-Hall.
  • Messick, S. (1989). Validity. Dalam R. L. Linn (Ed), Educational measurement (3rd ed., pp. 13-103). New York: Macmillan.
  • Nunally, J. (1978). Psychometric theory (2nd ed). New York: McGraw Hill.
  • Popham, W.J. (1995). Classrom assessment: What teachers need to know. Boston, MA: Allyn and Bacon, Inc.
  • Retnawati, Heri. (2016). Validitas Reliabilitas & Karakteristik Butir (Panduan untuk Peneliti, Mahasiswa, dan Psikometrian). Yogykarta: Parama Publishing.
  • Woolfolk, A. E & McCune, L. N. (1984). Educational psychology for teachers. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, In.

Posting Komentar untuk "VALIDITAS INSTRUMEN"