FILSAFAT IDEALISME PENDIDIKAN JASMANI

 Aliran Filsafat Idealisme Pendidikan Jasmani

Adapun sejumlah aliran filsafat yang telah berkembang yang  mempengaruhi pemikiran mengenai pendidikan. Aliran yang akan dibicarakan selanjutnya adalah idealisme yang dikaitkan dengan pendidikan dan  pendidikan jasmani dan olahraga.

Idealisme

Filsafat idelisme sudah lama berkembang sebagai satu warisan atau pusaka dari filosof atau pemikir bangsa Yunani. Konsep kunci dari ideałisme adalah seperti diuraikan di bawah ini. Pemikiran adalah pusat dari keberadaan seseorang. Penganut aliran  idealisme berkeyakinan bahwa pikiran itu lebih nyata dari pada suatu apapun yang ada. Sesuatu yang nyata secara esensial adalah hasil dari pikiran dan itu sama dengan penalaran dan gagasan. Dałam susunan alam semesta, manusia lebih penting dari alam. Karena bagi penganut aliran idealisme pikiran itu adalah kunci bagi kehidupan, alam nyata berperan sebagai bawahan dari manusia. Manusia menginterpretasikan alam dalam bahasa pikiran dan keberadaan.

filsafat idealisme olahraga

Nilai itu ada, ia tidak terikat pada individu dan bersifat tetap manusia dapat berbuat apa yang dikehendaki secara bebas. Dengan menggunakan kemampuannya, manusia mengenal ada yang jahat dan yang baik, ada yang indah dan tidak indah, ada yang bebas dan yang terkungkung, dan menafsirkan hal-hal tersebut dihubungkan dengan diri sendiri. Idealisme mengakui bahwa walaupun nilai-nilai itu diinterpretasikan secara berlainan, nilai-nilai itu tetap dan tidak berubah walaupun interpretasinya beragam. Penalaran dan intuisi membantu individu sampai pada kebenaran. Pikiran dipandang tenaga kreatif utama yang membantu individu mengetahui lebih banyak tentang dunia. Tetapi seorang idealis juga percaya bahwa metode penelitian ilmiah adalah pembantu yang berharga dalam mencari kebenaran.

Plato filosof bangsa Yunani sering dianggap sebagai bapak dari idealism. Ia berkayakinan bahwa ide memiliki kualitas yang kekal dan bahwa Objek fisik adalah ide yang dinyatakan dalam cara yang kurang dari sempurna. Plato berkata bahwa sesunggunya ada dua kelas ide; yang satu berada dalam pikiran manusia dan yang lain di luar pikiran. Aristoteles memperluas filsafat Plato dan ia bertanggung jawab mengenai asal mula metode ilmiah pada tahap permulaan. Aristoteles menekankan pencapaian kebenaran melalui penalaran dan pengamatan. Rene Descartes adalah salah seorang filosof idealis yang paling terkenal. Kata-katanya; “Saya berpikir, sebab itu saya ada”, adalah unsure esensial dalam filsafat idealisme. Baik Baruch Spinosa dan Gottfried W. Leibniz menyatakan pandangan bahwa ada sesuatu yang kekal dan tidak berubah di luar alam semesta.

Idealisme dan Pendidikan

Pendidikan mengembangkan kepribadian individu. Penganut idealisme menunjukkan perhatian yang besar pada nilai moral dan spiritual dalam masyakat. Bagi idealis untuk mencapai tujuan moral dan spiritual, maka perlu bagi pendidikan membantu mengembangkan kepribadian dari setiap siswa. Pendidikan harus memberikan kesempatan setiap individu untuk mengembangkan nilai pribadinya semaksimal mungkin.

Pengetahuan dan perkembangan pikiran itu penting. Idealisme menekankan pentingnya penalaran dan kebutuhan untuk menumbuhkan dan suburkan penalaran. Tiap pikiran seseorang harus berusaha untuk merealisasikan pikiran itu. Idealisme memandang pendidikan sebagai alat untuk mencapai pendidikan tujuan adalah satu proses yang berawal dalam diri sendiri. Idealis memandang siswa sebagai makhluk kreatif. Proses belajar harus dimulai oleh siswa sendiri untuk menjamin penanaman idealis. Pendidik (guru) yang idealistik menekankan pentingnya aktivitas diri, karena hal ini mendorong siswa untuk belajar dan berkembang.

Kurikulum berpusat sekitar ide. Karena titik berat adalah pada perkembangan kepribadian, idealis memberikan tekanan yang besar pada program yang memberikan kepada siswa kesempatan untuk perkembangan kualitas esensial dari percaya diri, tanggung jawab diri dan pengarahan diri. Kurikulum yang idealistik menekankan pada bidang studi yang membantu siswa membentuk intelektual, spiritual dan sifat moral yang ideal. Seni, sastra dan sejarah merupakan dasar dari kurikulum dalam sekolah idealis. Siswa adalah mahkluk yang kreatif yang dibimbing oleh pendidik. Siswa di sekolah idealistik merumuskan ide dan belajar dalam satu lingkungan yang diciptakan oleh pendidik. Pendidik yang idealistik merumuskan tujuan dan menyusun materi pelajaran. Lingkungan pembelajaran dari pendidik yang idealistik akan mencakup perumusan ide melalui metode proyek, metode kuliah, dan atau metode tanya dan jawab. Pendidikan yang idealistik dapat mengatakan kepada siswa apa saja jawaban yang mungkin dan kemudian siswa harus menemukan kesimpulannya sendiri. Dengan cara ini pendidikan yang idealistik membimbing siswa melalui proses penalaran yang akan mengarah kepada kebenaran.

Idealisme dan Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani bukan hanya berkenaan dengan jasmani. Idealis berkeyakinan bahwa jasmani harus berkembang bersamaan dengan pikiran. Pendidikan jasmani dan olahraga harus memberikan sumbangan bagi perkembangan intelek seseorang. Sebagai contoh, guru pendidikan jasmani dan olahraga, setelah menguraikan satu keterampilan yang sulit seperti pelaksanaan kip pada palang tunggal, dapat bertanya kepada siswa seperti umpamanya “Berapa besar sudut yang tepat bagi kedua tangan bila memegang palang”? Menurut idelalis, aktivitas pendidikan jasmani dan olahraga dapat dan harus membantu siswa untuk berpikir sendiri. Aktivitas kekuatan dan kesegaran jasmani membantu perkembangan kepribadian seseorang. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idealistik harus yakin bahwa aktivitas yang dipilih terkait erat dengan pentingnya aspek kehidupan. Seorang idealis dapat menerima aktivitas latihan yang berat yang menekankan pada perkembangan kekutan dan kesegaran, karena memerlukan disiplin diri dan usaha serta memilih aktivitas ini, karena memberikan sumbangan kepada perkembangan kepribadian seseorang.

Pendidikan jasmani berpusat disekitar yang dicita-citakan. Idealis berkeyakinan bahwa aktivitas yang diberikan harus dapat membantu siswa mengembangkan sifat jujur, berani, kreatif dan sportif. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idealistik mengarah pada kesempurnaan. Idealis bercita-cita agar siswa mengetahui apa yang benar dan asli, dan berkeinginan agar siswa mengembangkan moral yang tinggi. Idealis akan mendorong siswa melakukan senam yang diciptakan siswa sendiri, karena tekanan adalah pada kreativitas dan ingin olahraga beregu didominasi oleh siswa dan menolak dominasi oleh pelatih, karena siswa tidak akan memperoleh kesempatan berpikir sendiri untuk memecahkan satu masalah dalam bermain maupun dalam mempelajari keterampilan. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idelaistik menekankan pada kenyataan bahwa siswa hanya akan dapat berkembang bila ia memainkan peran yang penting dalam aktivitas.

Guru harus menjadi contoh bagi siswa. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idealistik harus memberi contoh yang baik bagi semua siswa dan harus tipe seseorang yang ingin dicontoh oleh siswa. Dengan contoh pribadi mengenai kesehatan dan personalitas, guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idealistik akan membimbing para siswa kepada prestasi yang tinggi.

Guru bertanggung jawab bagi keberhasilan program. Penganut idealisme berkeyakinan bahwa bimbingan yang tegas dan sungguh-sungguh dari guru lebih penting dalam pelaksanaan program daripada fasilitas dan peralatan. Guru pendidikan jasmani yang idealistik, yang bertanggung jawab terhadap keefektifan program, tidak akan menggunakan satu metode mengajar tetapi akan menggunakan metode tanya-jawab, ceramah, dan metode mengajar lainnya.

Pendidikan adalah untuk kehidupan. Guru pendidikan jasmani dan olahraga yang idealistik yakin bahwa mengembangkan keterampilan jasmani sama pentingnya dengan memiliki pengetahuan tentang olahraga dan kemampuan menganalisis masalah sama pentingnya dengan mengetahui peraturan permainan. Idealisme menitik beratkan pada program yang tersusun dan terarah dengan baik sehingga memberikan sumbangan kepada perkembangan mental dan jasmani sepenuhnya dari individu bagi  kehidupan.


Daftar Pustaka:

  • Paturusi, Achmad. (2012). Manajemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Jakarta: Rineka Cipta.

Posting Komentar untuk "FILSAFAT IDEALISME PENDIDIKAN JASMANI"