Metode Pembelajaran Inquiry Laerning di Sekolah

Pengertian inquiry menurut para ahli

  1. John Dewey, Metode inquiry adalah proses pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta didik untuk mencari dan menemukan jawaban atas suatu permasalahan melalui proses berpikir ilmiah secara sistematis, kritis, dan logis.
  2. Bruner (1961), Metode inquiry merupakan cara belajar yang mendorong siswa untuk memperoleh pengetahuan melalui kegiatan bertanya, menyelidiki, dan menemukan sendiri konsep atau prinsip yang dipelajari.
  3. Sanjaya (2006), Metode inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari serta menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
  4. Gulo (2002), Metode inquiry adalah suatu strategi pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
  5. Roestiyah (2001), Metode inquiry merupakan teknik pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif mencari, menyelidiki, dan menemukan pengetahuan di bawah bimbingan guru.
  6. Trianto (2010), Metode inquiry adalah model pembelajaran yang menekankan pada proses penemuan melalui kegiatan penyelidikan terhadap suatu masalah sehingga siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna.

Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa, 2003).

Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.

Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik berpikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.

Langkah-langkah Proses Pembelajaran Inquiry

Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah menyadarkan keingintahuan terhadap sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. Berikutnya adalah menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru (Mulyasa, 2005).

Strategi pelaksanaan inquiry adalah:

  • Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan.
  • Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa.
  • Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan- persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik.
  • Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya.
  • Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005).

Metode inquiry menurut Roestiyah (2001) merupakan suatu teknik atau cara yang dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari, meneliti, atau membahas tugasnya di dalam kelompok.

Setelah hasil kerja mereka di dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang pleno kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan, hal itu perlu diperhatikan.

Guru menggunakan teknik bila mempunyai tujuan agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber sendiri, dan mereka belajar bersama dalam kelompoknya. Diharapkan siswa juga mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan nantinya. Juga mereka diharapkan dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya.

Inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui bersama. Bila siswa melakukan semua kegiatan di atas berarti siswa sedang melakukan inquiry

Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu :

  • Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
  • Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
  • Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka.
  • Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
  • Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
  • Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
  • Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
  • Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
  • Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
  • Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Kelemahan Metode Inquiry

  1. Membutuhkan waktu yang cukup lama, Proses penyelidikan, pengumpulan data, hingga penarikan kesimpulan memerlukan waktu lebih panjang dibandingkan metode ceramah.
  2. Menuntut kesiapan mental dan kemampuan berpikir siswa, Siswa yang kemampuan berpikir kritisnya masih rendah atau kurang mandiri dapat mengalami kesulitan dalam merumuskan masalah dan menemukan jawaban.
  3. Kurang efektif untuk kelas besar, Guru akan kesulitan membimbing dan memantau seluruh siswa secara optimal jika jumlah siswa terlalu banyak.
  4. Memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, Guru harus menyiapkan masalah, bahan, media, serta strategi pembimbingan yang tepat agar proses inquiry berjalan efektif.
  5. Ketergantungan pada sarana dan prasarana, Beberapa kegiatan inquiry membutuhkan alat, bahan, atau fasilitas tertentu yang tidak selalu tersedia di sekolah.
  6. Tidak semua materi cocok menggunakan metode inquiry, Materi yang bersifat hafalan atau konsep dasar tertentu lebih efektif disampaikan dengan metode lain.
  7. Kemungkinan terjadinya kesalahan konsep, Jika bimbingan guru kurang optimal, siswa dapat menarik kesimpulan yang keliru.
  8. Perbedaan kemampuan siswa dapat menimbulkan ketimpangan, Siswa yang lebih aktif dan pandai cenderung mendominasi, sementara siswa lain menjadi pasif.

Metode inquiry menurut Suryosubroto (2002) adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inqury mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan, dan sebagainya.

Kesimpulannya, tidak ada satupun metode pengajaran dan penyampain materi ke anak didik yang sempurna. Buktinya, tiap-tiap metode memiliki celah dan kelemahan di sana-sini. Jadi, semuanya tergantung tenaga pendidik dalam mengoptimalisasikan kelebihan yang tersedia serta meminimalisir berbagai kelemahan yang ada pada tiap- tiap metode. Saya yakin, dengan adanya keserasian antara metode yang diterapkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik jauh lebih ampuh dalam mencapai hasil optimal dalam proses belajar mengajar ketimbang “sibuk” menerapakan tradisi pengajaran lama yang kurang berbobot dan terkadang begitu monoton.


DaftarPustaka

Mulyasa, E. (2005). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Wardanah, & Jamaludin, Adhar. (2019). Belajar dan Pembeajaran. Sulsel: CV. Kaaffah Learning Center.


Posting Komentar untuk "Metode Pembelajaran Inquiry Laerning di Sekolah"