Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jenis-Jenis Asesmen dalam Pembelajaran

Jenis-Jenis Penilaian (Asesmen) Dalam Pembelajaran

Asesmen yang baik tidak hanya memperhatikan suatu aspek dari ranah kognitif saja, tetapi juga aspek-aspek lainya, termasuk asesmen aspek afektif dan psikomotor. Berikut akan dipaparka fungsi asesmen secara umum yaitu: (1) sebagai alat untuk merencanakan, pedoman dan memperkaya proses, (2) sebagai alat komuikasi dengan siswa, mahasiswa, administrator dan orang tua siswa, (3) sebagai alat untuk memonitor perkembangan dan hasil pembelajaraan maupun perbaikan pemebelajaran, serta (4) sebagai alat untuk memperbaiki kurikulum dan pembelajaran.

Menurut Carin (1993) terdapat tiga jenis asesmen menurut tujuannya, (1) Asesmen diagnostik, diberikan pada siswa yang mengalami kendala dalam mengikuti pembelajaran terutama pelajaran-pelajaran tertentu. Guru dapat membimbing dengan pendekatan yang bijaksana agar siswa memiliki kepercayaan diri. (2) Asesmen formatif dilangsungkan selama pemeblajaran untuk mengetahui apa saja yang dipelajari murid-murid juga mendapatkan balikan dari murid-murid, apakah perlu memodifikasi metode pembelajaran atau rancangan pelajaran. Asesmen formatif juga memberikan balikan dalam bimbingan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. (3) Asesmen sumatif dilangsungkan sesudah proses pembelajaran selesai. Kegunaan asesmen sumatif adalah untuk menilai bebera banyak yang dapat diserap oleh murid dan untuk mendaptkan nilai akhir.

Asesmen Diagnostik

Tes tertulis dapat dipergunakan untuk melaksanakan asesmen diagnostik. Tes semacam ini disebut pretes atau prates. Cara lain untuk melaksanakan tes diagnostik adalah secara lisan. Baik secara tertulis maupun secara lisan, keduanya sangat tergantung kepada rumusan pertanyaan yang disusun oleh guru untuk menghasilkan asesmen yang baik. Asesmen diagnostic dapat membantu guru mengidentifikasi minat, kelebihan, dan kelemahan murid dalam setiap bidang studi, data diangnostik juga dapat membantu guru untuk dapat melihat apakah seseorang murid memerlukan bantuan dalam pembelajaran atau tidak, disamping itu data diangnostik juga memberikan informasi tentang perbedaan-perbedaan cara pembelajaran murid. Dalam pembelajaran, tanggung jawab guru adalah mengupayakan agar proses pembelajaran tersebut mengacu kepada hasil asesmen diangnostik. Siswa akan berpretasi lebih baik jika guru memberikan asesmen diangnostik sebelum melaksanakan satu pembelajaran, dan menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran denga hasil asesmen diangnostik (Carin, 1993).

Asesmen Formatif

Kadang-kadang diperlukan asesmen di tengah-tengah pembelajaran bila guru merasakan bahwa siswa mendapatkan kesulitan dalam menghadapi konsep-konsep yang sukar. Sebaiknya diadakan asesmen untuk mendapatkan data, bagaimana memodifikasi Sebagian atau keseluruhan pembelajaran. Asesmen formatif juga dapat dilaksanakan bila siswa kehilangan arah dalam menyelesaikan tugas.

Asesmen Sumatif

Asesmen ini dilakukan terutama untuk mendapatkan nilai akhir, untuk menjaring data seberapa banyak dari bahan pelajaran yang dapat dipahami oleh siswa sebelumnya beralih ke pokok bahasan berikutnya. Dalam hal ini peranan asesmen sumatif sangat erat hubungannya denga tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting, baik tujuan umunya maupun tujuan khusunya.

Secara umum Teknik asesmen tergantung kebutuhan murid dan pertimbangan guru. Asesmen dapat dilaksanakan secara perorangan atau kelompok, jika berupa tes jenisnya dapat berbentuk lisan atau tulisan atau dapat juga berbentuk kinerja, terutama untuk penguasaan keterampilan proses.


Daftar Pustaka

  1. Aries, Erna F. 2011. Asesmen dan evaluasi. Malang: Aditiya Media Publishing.
  2. Carin, Arhur A. 1993. Teacing Modern Sciace. Sixt th Edition. New York, NY: Maxwl Macmila International.



Posting Komentar untuk "Jenis-Jenis Asesmen dalam Pembelajaran"