Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

HUBUNGAN PENDIDIKAN JASMANI BERMAIN DAN OLAHRAGA

 HUBUNGAN PENDIDIKAN JASMANI BERMAIN DAN OLAHRAGA

Bisa dikatakan tidak ada sesuatu sistem yang paling sempurna seperti manusia. Sesuatu sistem yang memiliki juataan komponen yang saling berkaitan satu sama lain secara rapid an teratur. Dilihat dari aspek fisik maupun psikis manusia merupakan suatu system yang sempurna. Proses kontak dengan dunia luar, dunia empirik nyata berlangsung melalui tangkapan dan respon terhadap stimulus yang sedemikian banyaknya yang dinyatakan dalam bentuk prilaku gerak. Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu popular dan sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.

Pendidikan Jasmani
Secara konseptual pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas hidup peserta didik. Pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui dan dari pendidikan jasmani. Pakar penjas Siedentop mengatakannya sebagai “education through and of physical activities”. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari proses keseluruhan proses pendidikan. Artinya pendidikan jasmani menjadi salah satu media untuk membantu ketercapian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Pada gilirannya, pendidikan jasmani diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (Human Index Development). Permainan, rekreasi ketangkasan, olahraga kompetensi, dan aktivitas-aktivitas fisik lainya, merupakan materi-materi yang terkandung dalam pendidikan jasmani karena diakui mengandung nilai-nilai pendidikan yang hakiki.  KDI Keolahragaan (2000: 12) mengungkapkan bahwa pendidikan jasmani adalah proses sosialisasi via aktivitas jasmani, bermain dan/atau olahraga yang bersifat selektif untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Meskipun orientasi pembinaan tertuju pada aspek jasmani, namun demikian seluruh skenario adegan pergaulan yang bersifat mendidik juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif dan efektif sehingga pendidikan jasmani merupakan intervensi sistematik yang bersifat total, mencakup pengembangan aspek fisik, mental, emosional, social dan moral spiritual. Nuansa yang bersifat mendidikan ini terjadi pada anak-anak melalui pendekatan pedagogi dan juga pada orang dewasa melalui pendekatan andragogi sehingga proses pendidikan dan sekaligus pembentukan itu berlangsung melalui pendekatan agogik.

Pendidikan jasmani merupakan unsur dan alat pendidikan untuk menyiapkan dan membentuk manusia yang harmonis antara pertumbuhan jasmani dn perkembangan rokhaninya, dalam hubungannya dengan peningkatan mutu prestasi olahraga bangsa Indonesia, pendidikan jasmani hanya merupakan dasar dan pencarian bibit, yang akan dikembangkan lebih lanjut di lingkungan masyarakat nanti. Tujuan pendidikan jasmani sesuai dengan UU No 4 Tahun 1950 yaitu tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah Undang-undang tersebut berbunyi “Pendidikan jasmani yang menuju kepada keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa merupakan suatu upaya untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat dan kuat lahir dan batin, diberikan di segala jenis sekolah”. Untuk melaksanakan tujuan olahraga di lingkungan sekolah ini pemerintah telah menentapkan bahwa pendidikan jasmani tetap merupakan salah satu pelajaran wajib disekolah-sekolah mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Cabang-cabang olahraga yang diberikan di sekolah itu terdiri atas: senam, atletik, permainan dan renang, dengan sisesuaikan pada keadaan fasilitas yang tersedia.


Bermain (Play)
Bermain merupakan dorong naluri, fitrah manusia, dan pada anak merupakan keniscayaan sosiologis dan biologis. Ciri lain yang amat mendasar yakni kegiatan itu dilakukan secara suka rela tanpa ada paksaan, dalam waktu luang. Didalamnya juga terkandung nilai pendidikan sehingga perlu dimanfaatkan sebagai upaya menuju pendewasaan melalui pemberian rangsangan yang bersifat menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, social, dan moral yang berguna pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan secara normal dan wajar. Tujuan yang ingin dicapai tersirat di dalam kegiatan itu, suatu ciri yang ingin membedakan dengan bekerja. Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fiscal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus bersifat fisik. Bermain bukan lah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Bermain itu sendiri bukanlah sesuatu yang real sehingga bermain pada anak misalnya berlangsung dalam suasana tidak sunguh-sunguh, namun bersama dengan itu pula terdapat kesungguhan yang menyerap kosentrasi dan tenaga. Unsur ketegangan di dalamnya tidak lepas dari etika, seperti tersirat dalam semangat fair play yang selanjutnya menguji ketangguhan, keberanian, dan kejujuran pemain. Ciri bermain yang belum tercemar tampak dalam permainan anak-anak yang meskipun tanpa wasit, semua pemainya mampu mengatur dirinya untuk tidak meng-hancurkan permainan.


Olahraga (Sport)
Seiring dengan perubahan sosial dan perubahan Iptek pencarian konsep olahraga hingga tuntas tidak akan berhasil diperoleh karena definisi itu mengalami perubahan, tidak mengherankan jika definisi klasik olahraga yang bertumpuan pada permainan dan peragaan keterampilan fisik dengan dukungan usaha keras kelompok otot-otot besar misalnya, semakin sukar dipertahankan. Olahraga dipihak lain adalah bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisir, yang menempatkannya lebih dekat dengan istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menujukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktifitas kompetitif. Olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain karenanya pada satu saat menjadi olahraga tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain, karena aspek kompetitif teramat penting dan hakikatnya.

Sisi lain pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan pendidikan tertentu. Pendidikan jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan. Bermain, olahraga dan penjas melibatkan bentuk-bentuk gerakan dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya olahraga profesional dinaggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif keduanya dapat dan harus beriringan bersama.



DAFTAR PUSTAKA
[1] Husdarta. (2011). Sejarah dan filsafat olahraga. Bandung: Alfabet.
[2] KDI-Keolahragaan. (2000). Ilmu keolahragaan dan rencana pengembanganya. Jakarta: Depdiknas.
[3] Mahendra, Agus. (2003). Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas.
[4] Paturusi, Achmad. (2012). Manajemen pendidikan jasmani dan olaharga. Jakarta: Rineka Cipta.

Posting Komentar untuk "HUBUNGAN PENDIDIKAN JASMANI BERMAIN DAN OLAHRAGA"