Implementasi Model Pembelajaran Konstruktivistik

Ublik Pendidikan John Dewey (1859-1952) (dalam Arends, 2008) menyatakan bahwa sekolah merupakan laboratorium bagi peserta didik untuk penyelidikan dan pengatasan masalah kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata. Pedagogi mendorong guru untuk melibatkan peserta didik diberbagai proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai masalah sosial dan intelektual penting. Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar peserta didik harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Peserta didik harus aktif an tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Begitupula guru harus menciptakan suasana agar peserta didik senantiasa meras haus akan pengetahuan.

Menurut teori konstruktivistik, satu prinsip penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya dapat sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dpat memberikan kemudahan dalam proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri untuk belajar. Peran guru adalah menyediakan suasana diamana pada siswa mendesain dan mengarahkan kegiatan belajar itu lebih banyak daripada menginginnkan bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan ide-ide. Implementasi model pembelajaran konstruktivistik dapat dipahami dan dilihat dalam beberapa hal berikut ini:



Tujuan Pembelajaran Konstruktivistik
Tujuan pembelajaran konstruktivistik ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong sibelajar untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan. Dari tujuan tentang konstruktivisme dalam pembelajaran, pada dasarnya ada beberapa tujuan yang ingin diwujudkan yaitu:
  1. Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri
  2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya.
  3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap.
  4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri

Sistem Pendekatan Model Pembelajaran Konsturtivistik
Sistem pendekatan konstruktivis dalam pengajaran lebih menekankan pengajaran top down daripada bottom up berarti siswa memulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan, kemudian menemukan (dengan bimbingan guru) keterampilan dasar yang diperlukan. Praktk pembelajaran konstruktif dilakukan untuk membantu siswa membentuk, mengubah, diri atau mentransformasikan informasi baru.

  
BACA JUGA : Pangajaran Konstruktivisme


Proses belajar konstruktivistik bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
Dalam proses pembelajaran konsep ini menghendaki agar anak didik dapat dibandingkan kemampuannya untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan dari ilmu pengetahuan dan teknologi (Imam Bernadib,1997).
Pembelajaran Konstruktivistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasikan informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru, yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru.
  1. Peran Guru dalam proses pembelajaran Konstruktivistik
    Peranan guru pada pendekatan konstruktivisme ini lebih sebagai mediator dan fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkkan siswa bertanggungjawab, mengajar atau berceramah buakanlah tugas utama seorang guru. (2) Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya. Guru perlu menyemangati siswa dan menyediakan pengalaman konflik. (3) Memonitor , mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan untuk mengahadapi persoalan baru yang berkaitan.

  2. Sarana dalam proses pembelajaran konstruktivistik
    Dalam hal ini, sarana belajar, pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, melalui bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.. Lingkungan sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman, sehingga memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.

  3. Evaluasi dalam pembelajaran konstruktivistik
    Dalam hal evaluasi, evaluator tidak diberikan informasi tentang tujuan selanjutnya. Kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan dan pembelajaran. Hasil belajar konstruktivistik lebih tepat dinilai dengan metode evaluasi goal free. Evaluasi yang digunakan untuk menilai ghasil belajar konstruktivistik, memrlukan proses pengalaman kognitif bagi tujuan-tujuan konstruktivistik.
    Beberapa hal penting tenatng evaluasi dalam pembelajaran Konstruktivistik yaitu:
    1. Diarahkan pada tugas-tugas autentik
    2. Mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir yang lebih tinggi
    3. Mengkonstruksi pengalaman siswa
    4. Mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif
Pandangan konstruktivistik tidak melihat pada apa yang dapat diungkapkan kembali atau apa yang dapat diulang oleh siswa terhadap pembelajaran yang telah diajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang dapat dihasilkan siswa, didemonstrasikan dan ditunjukkan.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Alit, Mahisa. 2004. Pembelajaran Konstruktivisme, Apa dan Badaimana Penerapannya di Dalam Kelas. Cirebon: SD Negeri 2 Bungko Lor UPT Pendidikan Kecamatan Kapetakan.
  2. Budiningsih, C.A. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
  3. Riyanto, Hatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru / Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta : Kencana.
  4. Shunk, Dale H. 2012. Teori-teori Pembelajaran: Perspektif Pendidikan Edisi terjemahan Edisi VI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  5. Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
  6. Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Jogjakarta: Kanisius.
  7. Yamin, Martinis. 2012. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta: Referensi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Implementasi Model Pembelajaran Konstruktivistik"

Posting Komentar