Pengertian Konstruktivisme

Ublik Pendidikan Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal didalam kehidupan manusia. Di mana pun dan kapan pun di dunia ini terdapat pendidikan. Pendidikan dipandang merupakan kegiatan manusia untuk memanusiakan sendiri, yaitu manusia berbudaya. Konstruktivis sebagai suatu konsep yang banyak membicarkan masalah pembelajaran, diharapkan menjadi landasan intelektual untuk menyusun dan menganalisis problem pembelajaran dalam dunia pendidikan. Pandanganklasik yang selama ini berkembang adalah bahwa pengetahuan ini secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke anak. Penelitian pendidikan sains pada tahun-tahun terakhir telah mengungkapkan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran seseorang . Pandangan terakhir inilah yang dianut konstruktivisme. Glaserfeld , Bettencourt (1989) dan Matthews (1994), mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan hasil konstruksi (bentukan) orang itu sendiri. Sementara Piaget (1971), mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalamannya, proses pembentukan berjalan terus menerus dan setiap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang baru. Sedikit berbeda dengan para pendahulunya, Lorsbach dan Tobin (1992), mengemukakan bahwa pengetahuan ada dalam diri seseorang yang mengetahui , pengetahuan tidak bisa dipindahkan begitu saja dari otak seseorang kepada yang lain. Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan konstruksi yang telah dibangun sebelumnya.

Pengertian Konstruktivisme
Jalaludin (1997), Konstruktivis berarti bersifat membangun, dan konstruktivisme merupakan suatu pemahaman yang berupaya membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Konstruktivis berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Pengaruh besar yang mendorong kemunculan konstruktivisme adalah teori dan penelitian dalam ilmu perkembangan manusia. Konstruktivisme adalah perspektif psikologis dan filosofis yang memandang bahwa masing-masing inndivdu membentuk atau membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan pahami.
Asumsi-asumsi konstruktivisme menyoroti interaksi orang-orang dan situasi-situasi dalam penguasaan dan penyempurnaan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan. Konstruktivisme berlawanan degan teori-teori pengkondisian yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan terhadap orang-orang. Konstruktivisme juga bertentangan dengan teori-teori pengolahan informasi yang menempatkan fokus pembelajaran didalam benak individu dan tidak terlalu memperhatikan konteks dimana pembelajaran tersebut terjadi. Tetapi konstruktivisme memiliki asumsi yang senada dengan teori kognitif sosial yang menyatakan bahwa orang, perilaku, dan lingkungan berinteraksi secara timbal balik.

Pengertian Teori Belajar Konstruktivistik
Teori Konsruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pegetahuan oleh si belajar itu sendiri, penetahuan ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui . pengetahuan tidak bisa dipindahkan begitu saja dari otak seseorang guru kepada orang lain (siswa). Wheatley (1992) menyebutkan duaa prinsip uatam dalam pembelajaran menurut teori konstruktivistik. Pertama; pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif peserta didik. Kedua; fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiiki anak. Tasker (1992) mengemukakan tiga penekanan dalam teori konstruktivistik, yaitu yang pertama; peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua; pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga; mengaitkan antara gagasan dan informasi baru yang diterima.




Model Pembelajaran Konstruktivistik
Pembelajaran Konstruktivistik adalah pembelajaran berpusat pada peserta didik (student oriented), guru sebagai mediator, fasilitator, dan sumber belajar dan pembelajaran. Guru mengemban tugas utamanya adalah membangun dan membimbing peserta didik untuk belajar serta mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki (berdasarkan kompetensi). Didalam tugasnya seorang guru diharapkan dapat membantu peserta didik dalam memberi pengalaman-pengalaman baru untuk membentuk kehidupan sebagai individu yang dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat modern.
Pembelajaran Konstruktivistik adalah membangunkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan dunia nyata. Pembelajaran konstruktivistik bukanlah pengajaran yang dilaksanakan didalam kelas sebagaimana menurut Mager yang menitikberatkan pada perilaku peserta didik atau perbuatan sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada peserta didik dan teramati serta menununjukkan ahwa peserta didik tersebut telah melaksanakan kegiatan belaja (behavioristik).

Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut:
  1. Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
  2. Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
  3. Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
  4. Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Sedangkan menurut Mahisa Alit dalam bukunya menuliskan bahwa ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis adalah sebagai berikut:

  1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan,
  2. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara,
  3. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari,
  4. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa,
  5. Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
  6. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar.

Daftar Pustaka
  1. Alit, Mahisa. 2004. Pembelajaran Konstruktivisme, Apa dan Badaimana Penerapannya di Dalam Kelas. Cirebon: SD Negeri 2 Bungko Lor UPT Pendidikan Kecamatan Kapetakan.
  2. Budiningsih, C.A. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
  3. Riyanto, Hatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru / Pendidik Dalam
  4. Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. Jakarta : Kencana.
  5. Shunk, Dale H. 2012. Teori-teori Pembelajaran: Perspektif Pendidikan Edisi terjemahan Edisi VI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  6. Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
  7. Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Jogjakarta: Kanisius
  8. Yamin, Martinis. 2012. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta: Referensi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Konstruktivisme"

Posting Komentar