Implikasi Penelitian Kebijakan

Implikasi Penelitian Kebijakan

Terdapat paradoks yang dihadapi peneliti kebijakan. Di satu sisi, perubahan kebijakan lebih bergolak dan kurang dapat diprediksi daripada teori pilihan rasional perubahan kebijakan. Namun, di sisi lain, penelitian kebijakan yang sistematis yang menggunakan bukti (serta makna) dibutuhkan untuk membuat rekomendasi yang memiliki beberapa kemungkinan untuk diterima, meskipun para pembuat kebijakan tidak selalu mengambil keputusan dan tindakan dari rekomendasi peneliti kebijakan.

Arti paradoks ini adalah bahwa penelitian kebijakan memiliki keterbatasan. Peneliti akan menemukan bukti lemah, kesulitan dalam memperoleh bukti baru, tantangan dalam menyeimbangkan bukti dan makna, dan kesulitan ekstrim untuk mengubah pikiran yang tertutup. Kecuali peneliti memberikan bukti tentang kemungkinan efek dari berbagai jenis intervensi kepada para pengambil keputusan, maka pengambil keputusan dibiarkan tanpa bimbingan.

Menurut Ann Majhrzak dan M. Lynne Markus (2014: 9-10) penelitian kebijakan yang baik memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki sifat yang:
  1. Kredibel, karena berdasarkan bukti dan tidak memihak;
  2. Bermanfaat, menarik dan mewakili kelompok pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan, orang-orang yang menderita karena masalah, dan orang-orang yang mungkin akan terpengaruh oleh solusi;
  3. Bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan spektrum yang luas mengenai konsekuensi negatif dari perubahan;
  4. Kreatif, karena situasi kebijakan tersebut mungkin perlu solusi yang baru atau berbeda dari yang digunakan di tempat lain; dan
  5. Dapat dikelola oleh peneliti kebijakan, yaitu bisa dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang telah tersedia.


b. Penelitian kebijakan yang baik membutuhkan pertanyaan penelitian kebijakan yang baik. Pertanyaan yang baik tidak mendefinisikan masalah dengan satu solusi. Pertanyaan kebijakan yang baik adalah pertanyaan yang cukup luas untuk mendorong pencarian solusi yang lebih banyak dan mungkin lebih baik. Dengan alternatif solusi yang lebih banyak, maka ada kemungkinan untuk menemukan satu solusi selaras dengan keyakinan dan nilai-nilai pemangku kepentingan menjadi lebih besar. Pertanyaan penelitian kebijakan yang baik juga tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa beberapa, mungkin semua, intervensi bisa memiliki efek yang lebih buruk daripada membiarkan situasi saat ini terus berlangsung tanpa adanya perubahan.

c. Kreativitas diperlukan terutama dalam desain rekomendasi kebijakan, hal ini dikarenakan:
  1. Bukti tentang penyebab masalah mungkin saja hilang, lemah, bertentangan, atau diperebutkan. Hal yang sama juga bisa terjadi pada bukti tentang biaya, manfaat, dan risiko dari solusi yang mungkin.
  2. Masalah serta solusinya bisa saja memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing pemangku kepentingan. Dengan kata lain, para pemangku kepentingan jarang menghargai hal-hal yang sama, dan biasanya dipengaruhi oleh masalah atau solusi dari masalah tersebut.
  3. Ada begitu banyak jenis intervensi yang memungkinkan untuk dipilih. Intervensi yang efektif mungkin perlu menargetkan titik yang cukup jauh dari mana masalah diamati.
  4. Beberapa masalah hanya bisa diselesaikan melalui intervensi dari berbagai aspek masalah pada waktu yang sama.
d. Penelitian kebijakan yang baik membutuhkan pemahaman yang rinci mengenai konteks dimana masalah berada, dan memiliki teori tentang bagaimana dan mengapa masalah terjadi.


Referensi
  1. Majchrzak, Ann & Markus, M. Lynne. (2013). Methods for Policy Research. California: SAGE Publications.
  2. Riant Nugroho. (2014). Metode Penelitian Kebijakan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Implikasi Penelitian Kebijakan"

Posting Komentar