Hakikat Pendidikan Jasmani

Pendidikan Jasmani

Kondisi bangsa kita sekarang sedang dihadapkan pada kondisi krisis ekonomi, ditandai dengan mahalnya kebutuhan pokok, tetapi tidak dibarengi dengan pendapatan yang seimbang, hingga kini masih membekaskan luka yang dalam bagi sebagian besar masyarakat kita. Hal tersebut lebih terasa dan pedih bagi bangsa kita, ditengah kondisi dunia yang sedang dihadapkan pada krisis perebutan kekuasaan politik dunia, dengan nuansa kental perbuatan kekuasaan ekonomi dan teknologi sebagai besar dunia maju dan imbasnya kena bangsa kita.

Kemampuan ekonomi bangsa Indonesia telah terlempar pada keadaan tak terkendali, menghasilkan persoalan-persoalan seperti pemangkasan anggaran, harga barang yang membumbung, kesulitan, dan konflik penduduk kota, rangkaian pengangguran, hingga deficit pemerintah yang semakin menggunung. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mencapai tahap sangat maju telah pula menghadapkan bangsa kita, terutama para anak-anak dan remaja, pada gaya hidup yang semakin menjauh dari semangat perkembangan total, karena lebih mengutamakan keunggulan kecerdasan intelektual, sambal mengorbankan kepentingan keunggulan fisik (physical conditioning) dan moral individu. Budaya hidup/gampang, sedenter (kurang gerak) karenanya semakin kuat mengejala di kalangan anak-anak dan remaja, berkomunikasi dengan semakin hilangnya ruang-ruang publik dan tugas kehidupan yang memerlukan upaya fisik yang keras, segalanya menjadi mudah, sehingga lambat laun kemampuan fisik yang keras, segalanya jadi mudah, sehingga lambat laun kemampuan fisik manusia sudah tidak diperlukan lagi. Dikhawatirkan secara evolutif manusia akan berubah bentuk fisiknya, mengarah pada bentuk yang tidak bisa kita bayangkan karena banyak anggota tubuh kita mulai kaki dan lengan sudah dipandang tidak berfungsi.

Dalam kondisi demikian, patutlah kita memoertanyakan kembali peran dan fungsi pendidikan, khusunya pendidikan jasmani: apakah peranan yang bisa dimainkan oleh program pendidikan jasmani dalam kondisi dunia bangsa yang semakin dihadapkan pada kuatnya potensi konflik tersebut? Apa peranan pendidikan jasmani dalam mempersiapkan para pewaris bangsa ini untuk mampu bersaing secara sehat dalam persaingan global sekarang dan kelak? Apa pula peran pendidikan jasmani dan olahraga dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya evolusi kehidupan manusia yang cenderung tidak lagi memerlukan perangkat fisik yang untuh menjalankan tugasnya sehari-hari?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, serta penawaran satu alternative dalam memandang peranan dan fungsi pendidikan jasmani dan olahraga yang seharusnya dilaksanakan di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Indonesia lebih diseriuskan dan ditingkatkan.

Pendidikan Jasmani
Pakar-pakar pendidikan di dunia pendidikan, seperti Rosseau, Pestalozzi, Basedow, Hernart dan Froebel memandang anak sebagi anak, bukannya sebagai miniature orang dewasa (yang memandang anak sebagai sebuah tahapan perkembangan yang terpisah). Para pemimpin ini memandang pendidikan sebagai perkembangan dan sekolah termasuk di dalamnya pesanteren sebagi suatu tempat dimana anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan cara-cara yang alami. Sehubungan dengan itu, pendidikan jasmani harus memiliki tujuan yang sejalan dengan tujuan pendidikan memberi kontribusi yang sangat berharga dan memberi inspirasi bagi kesejahteraan hidup manusia. Makna yang terkandung dalam pendidikan jasmani tidak sekedar pendidikan yang bersifat physical atau aktifitas fisik tetapi lebih luas lagi keterkaitanya dengan tujuan pendidikan secara menyeluruh serta memberikan kontribusi terhadap kehidupan individu.




Pendidikan jasamani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk mengahsilkan perubahan holistic dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Rosdiani (2012: 89) pendidikan jasmani adalah program pendidikan yang wajib bagi semua warga Negara peserta didik untuk membina kepribadian warga negara peserta didik untuk membina keperibadian warag negara peserta didik menjadi manusia seutuhnya melalui pembinaan nilai-nilai dan semangat menerapkan nilai-nilai untuk mencapai pikiran, perasaan dan tindakan secara sempurna.

KDI Keolahragaan (2000: 12) mengungkapkan bahwa pendidikan jasmani adalah proses sosialisasi via aktivitas jasmani, bermain dan/atau olahraga yang bersifat selektif untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Meskipun orientasi pembinaan tertuju pada aspek jasmani, namun demikian seluruh skenario adegan pergaulan yang bersifat mendidik juga tertuju pada aspek pengembangan kognitif dan efektif sehingga pendidikan jasmani merupakan intervensi sistematik yang bersifat total, mencakup pengembangan aspek fisik, mental, emosional, social dan moral spiritual. Nuansa yang bersifat mendidikan ini terjadi pada anak-anak melalui pendekatan pedagogi dan juga pada orang dewasa melalui pendekatan andragogi sehingga proses pendidikan dan sekaligus pembentukan itu berlangsung melalui pendekatan agogik. Pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sunggu luas. Titik perhatian adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainya: hubungan dari perkembangan tubuh fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.

Secara konseptual pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas hidup peserta didik. Pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui dan dari pendidikan jasmani. Pakar penjas Siedentop mengatakannya sebagai “education through and of physical activities”. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari proses keseluruhan proses pendidikan. Artinya pendidikan jasmani menjadi salah satu media untuk membantu ketercapian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Pada gilirannya, pendidikan jasmani diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (Human Index Development). Permainan, rekreasi ketangkasan, olahraga kompetensi, dan aktivitas-aktivitas fisik lainya, merupakan materi-materi yang terkandung dalam pendidikan jasmani karena diakui mengandung nilai-nilai pendidikan yang hakiki.

Per definisi pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungakapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangkan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung. Karena hasil-hasil pendidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya sebatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menujuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pemebentukan kualitas pikiran dan juga tubuh. Sungguh pendidikan jasmani dalam pikiran dan tubuh yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagi prosesmenciptakan tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa. Artinya dalam tubuh yang baik diharapkan pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.


Referensi
[1] Husdarta. (2011). Sejarah dan filsafat olahraga. Bandung: Alfabet.
[2] KDI-Keolahragaan. (2000). Ilmu keolahragaan dan rencana pengembanganya. Jakarta: Depdiknas.
[3] Mahendra, Agus. (2003). Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas.
[4] Paturusi, Achmad. (2012). Manajemen pendidikan jasmani dan olaharga. Jakarta: Rineka Cipta.
[5] Rosdiani, Dini. (2012). Dinamika olahraga dan pegembangan nilai. Bandung: Alfabet.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hakikat Pendidikan Jasmani"

Posting Komentar